KisaH BeTe eN HePI SeORang PNS

Ikon

Just another my bad days, or a few my good days

At Cost

At Cost. Saya percaya sepenuhnya kalau nyaris seluruh PNS di Indonesia sangat membenci dengan kata at cost. Kalau saya pribadi, at cost tidak ada pengaruhnya secara langsung. Lha wong saya ini jarang banget bisa jalan-jalan ke luar kota. Kalo toh emang ada kesempatan, ya paling emang tenaga kita benar-benar dibutuhkan dan (lagi-lagi) selalu mendapat porsi kerjaan yang naujubilah buanyaknya. Sesuai dengan jargon PNS, PGPS (pinter goblok pendapatan sama). Itulah nasib junior yang selalu dirundung kerjaan berat.

Bagi yang belum tahu apa itu at cost, mungkin bisa saya dikit jelaskan tentang istilah ini. At cost bisa diartikan sebagai suatu sistem pembayaran uang perjalanan berdasarkan bukti fisik yang ada, baik itu bukti tiket pesawat ato kereta, ditambah airport tax, serta bukti boarding pass kalo kita naik pesawat. La kan emang harusnya seperti itu bukan? Trus apa urusannya kalo para PNS sak Indonesia sangat membenci dengan at cost?

Begini, sodara-sodara. Selama ini, para PNS itu kalo mendapat tugas perjalanan dinas selalu menggunakan ukuran-ukuran biaya perjalanan yang telah ditetapkan oleh departemen keuangan yang kaya banget itu. Biasanya standar ukurannya berdasarkan tiket pesawat Garuda, nah kan tau sendiri berapa besar duit yang diterima secara yang namanya Garuda gitu lo…pasti mahal banget. Nah, selama ini, uang perjalanan tersebut tidak pernah dimintai pertanggungjawaban. Intinya, ni gue kasih tu duit berdasarkan besaran yang udah ditetapkan, mau kamu ke luar kotanya pake pesawat kek, pake kereta api kek, ato mo jalan kaki ampe gempor pun gak ada masalah. Pokoknya uang jalan dah dikasih, titik.

Disitulah para PNS itu bermain dengan uang perjalanan. Do you know what I mean? Kalo kamu mendapat tugas ke Yogya, trus kamu mau naik pake kereta api, maka selisih dari uang perjalanan tersebut langsung blung masuk ke kantong pribadi. Salahkah? Secara sistem, tidak ada yang salah, la wong gak ada dalam sistemnya disuruh pake pertanggungjawaban dengan melampirkan tiket pesawat. Secara moral, jelas salah. Disuruh pake Garuda eh kok malah nekat berenang ke sono, hehehe…

Kalo saya? Ya jelaslah saya manfaatkan juga, lumayan lo hehehe…bukannya munafik lo, tapi kalo bisa saya lebih milih naik Garuda, ya kapan lagi neh bisa naik Garuda, hehehe…tapi emang saya akui kadang saya juga melakukannya (ngaku dosa nih^_^).

Nah bencana at cost akhirnya datang juga dengan turunnya surat keputusan dirjen perbendaharaan negara depkeu yang kaya itu, dimana mulai bulan Agustus 2007, biaya perjalanan harus melampirkan bukti perjalanan. Dengan kata lain, sejak Agustus itulah, perjalanan dinas bukan lagi sorga bagi para PNS. Mau elo ke Bandung ato ke Papua sekalipun, ya tetap aja honornya segitu. Sebagai catatan, selama dalam perjalanan dinas, PNS mendapat uang saku yang terhitung lumayan. Mungkin karena kasian gara-gara at cost, maka dalam SK itu uang sakunya dinaikkan. Ya…lumayanlah.

Saya inget banget, pas aturan at cost berlaku, di kantor semua kegiatan ke luar kota langsung di-cancel semua. Kantor serasa ramai dengan orang-orang yang belum pernah saya lihat. Pernah ada yang nawarin saya untuk perjalanan dinas ke luar kota gara-gara hampir semua PNS gak ada yang mau pergi, hahaha…rejeki kok ditolak..^_^

At cost…bagi saya sendiri sih gak ada masalah, secara saya ini suka banget jalan-jalan, ya gak ngefek dong…:)

Filed under: pns, , ,

7 Responses

  1. satria mengatakan:

    Kemaren kalo g salah hari sabtu di TRANS7 ditayangkan mengenai “SPPD at cost” banyak disinggung mengenai “tiket-tiket perjalanan dan kuitansi hotel palsu” …

    so apapun peraturannya, manipulasi tetap berjalan. yang salah itu bukan peraturannya tapi “oknum” pelaksana peraturan.. bersiaplah ITJEN dan BPK segera datang… dan terlebih semua itu tidak lepas dari pengamatan “gusti alloh” (weleh.. weleh.. piye iki nasib e pegawe negeri rendahan yang cuma staff ketik, dapet honor dipotong lagi hik2…..)

  2. windi mengatakan:

    Saya nggak setuju at cost diterapkan. Namanya kan ukuran biaya perjalanan maksimal, kalo dimaksimalkan boleh, kalo mau dihemat juga boleh toh? terserah kita dong, melarat dikit (nginep di hotel murah, masak sendiri atau puasa, jalan kaki drpd naik bis) tapi dapat sisa. Bukannya oportunis, anggap aja rejeki nomplok, bukan korupsi, toh emang segitu anggaran standarnya. Daripada pake at cost, duit yang tadinya buat PNS kere, malah ngalir ke pemilik maskapai penerbangan dan pemilik hotel yang udah kaya-kaya….. Hhh…. emang yang ngatur perPNSan ini gila!!

  3. tata mengatakan:

    Dep keu curang…masa’ aturan at cost diterapkan kesemua instansi yang aturan penggajiannya ga ‘kaya’ depkeu…kalo mo adil nerapkan at cos sama ama mereka, ya disamain juga dong sistem penggajiannya……

  4. Tyas mengatakan:

    weew kalo liat 2 comment di atas kayaknya saia musti setuju dengan anda kalo nyaris semua PNS membenci at cost
    emphasized on “nyaris” karena saia jg PNS tapi saia toh g ada masalah dengan at cost hehe
    secara saia memang g pernah ngerasain sistem lump sump itu ahahahahai, cm dari segi pertanggungjawaban gimana2 at cost kan memang lebih baik

    tapi sii saia seringnya DL ga dapet SPPD, laa wong DLnya dinas lantai *kedip2*
    maklum, senasib dengan anda, sebagai PNS junior yang statusnya bukan staff ahli melainkan ahlinya staf…jadinya ya kebanyakan boss dan diharuskan untuk melakukan DL tadi dalam rangka memenuhi panggilan para boss-boss saia tadiih*malah jadi curhat*

    salam kenal dari sesama PNS ^__^

  5. aria mengatakan:

    kata siapa ditjen pb sejahtera boss. gak juga bos…
    justru dari mata ane.. satker satker dari instansi lain yang makmur……. soalnya yang dateng kesini rata rata kelihatan bling bling nya… mereka rata rata bagian dari anak buahnya bendahara kantor…

    soo posisi menentukan rejeki yaa di instansi non remunerasi?
    hanya tuhan dan pimpinan kalian yang tahu…

  6. aras mengatakan:

    saya termasuk salah seorang pengamat PNS,sebenarnya emang kacian banget dengan nasib PNS .Di Itjen Depkeu bidang 1 apalagi, DL ,tapi nggak bisa meriksa, karena orang2 pajak enggak mau diperiksa, karena mentrinya sendiri melindungi mereka dengan UU KUP ps 34 .Kalau DL paling otek2 berkas yang nggak jelas ,wong data nggak dikasih mau kerja apa ,ya .. nikmati aja liburan gratis luar kota trus..pulang dech.wibawa sama orang pajak udah nggak ada Itjen datang mereka cuek ,wong orang pajak tau kok, pemeriksaan itjen nggak ada tajinya,kalau ada temuan mereka nyengir doang EGP ,ntar mereka malah dipromosiin jadi pejabat,yang udah2 gitu lho.saran saya sich.. mending bidang 1 dibubarin aja atau bubarain aja itjennya sekalian,atau demo mentrinya wong dia yang nggak percaya pada itjenkok jadi jangan salahkan anak buah kerjannya cuma jalan2 doang kedaerah.
    Nah.. kalo soal remunerasi lebih seru lagi , auditor diitjen sama dengan TU di ditjen pajak kacian dech percuma jadi akuntan penghargaan nya sama dengan TU .parahnya lagi auditor baru diangkat dengan yang masa kerjanya udah lama besaran remunnerasinya sama,saya nggak tau maksud yang nyusun nilai remunerasi ini apa.nggak tau siapa yang oon, mentrinya yang nggak baca usulan,atau yang nyusun yang curang (biar dia yang dpt gede)atau irjennya yang EGP ( bagian gue udah gede ,bodo amat dgn anak buah.

  7. Bayu mengatakan:

    Kasihan bgt ya jadi PNS, di dunia sengsara di akhirat masuk neraka kebanyakan nipu2 buat nutup gaji yg minim…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Follow Twitter Gue DONK!

%d blogger menyukai ini: