KisaH BeTe eN HePI SeORang PNS

Ikon

Just another my bad days, or a few my good days

Sikap Politik PNS: Pentingkah??

Serius amat judul di atas…maklumlah, kan bentar lagi mau Pemilu. Se dodol-dodolnya gua, teteup yang namanya pemilu bagi gua penting untuk diamati (dan dicaci maki). Paling tidak, gua ngerasa Pemilu sekarang sudah amat sangat berbeda dengan Pemilu jaman Mbah Harto. Gini-gini gua pernah lo nyoblos pas jamannya partai politik cuma tiga biji. Udah gitu, hawa-hawa terror buat nyoblos di tengah terasa kuat banget. Mending malam pertama nyoblos di tengah lebih enak, hihi…

Kalo sekarang? Gua jamin para pemilih bakal mencret darah ngeliat segitu banyak partai politik yang berkiprah. Tambah semaput lagi kalo disuruh milih segitu banyak nama calon legislatif (nama kerennya Caleg) yang bakal bikin bola mata kita mo pecah. Yah…Pemilu sekarang memang jauh lebih rumit kayak dedemit. Konon, Pemilu di Indonesia adalah pemilu yang paling rumit dan ruwet di dunia. Gua yang sangat keren ini aja pas liat kertas suara yang lebarnya kayak lapangan tenes gitu aja langsung gliyeng mau mens, gimana mereka yang tingkat kecerdasannya hanya setingkat Patrick Star…apa gak korslet tuh otaknya…

Oke, kita lupakan surat suara dengan Patrick Star-nya. Kita sekarang ngomongin sikap politik PNS. Hmmm…bingung juga mo mulai dari mana. Yang pasti PNS sekarang memang harus netral, beda dengan PNS dulu yang harus nyoblos di tengah. Permasalahan sekarang, netral itu batasannya apa? Ndak boleh milih? Ndak boleh masuk parpol? Ndak boleh jadi caleg? Ato ndak boleh kawin?? (apa hubungannya??)

Kalo ndak boleh milih jelas ndak mungkin. PNS tetap manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan…ehm salah, maksudnya PNS tetaplah warga negara yang punya hak untuk memilih dalam pemilu. Kalo ndak boleh masuk parpol? hmmm…mungkin juga. Ndak boleh jadi caleg? Pastilah…tapi kan ndak ada hubungannya dengan netralitas. Cuma ndak boleh rangkap jabatan doang. Trus maksud netral di sini apa?

Maksudnya mungkin sebagai aparatur negara yang melayani semua kalangan, PNS tidak boleh berlaku condong dan pilih kasih kepada hanya salah satu partai atau golongan tertentu saja. PNS juga tidak boleh menggunakan fasilitas negara untuk mendukung pihak ato partai tertentu. Gitu kali yee…(sambil masih mikir).

Namun itu bukan berarti PNS tidak diberi kesempatan untuk menentukan sikap politiknya. Mungkin sikap politik itu lebih berwujud pada diri pribadi masing-masing individu PNS. Atribut PNS yang melekat tidak boleh membatasi hak-hak politiknya. Bagi gua sih, sah-sah aja PNS punya pendapat dan sikap politik, sepanjang mereka tidak memanfaatkan fasilitas negara dan ke-PNS-annya untuk mendukung salah satu partai atau calon presiden.

Hmmm…(sori postingannya rada serius, maklum lagi error)

Filed under: Uncategorized, , , , , ,

4 Responses

  1. pengendara mengatakan:

    sering-sering aja error,
    .
    biar postingannya jadi makin bagus.

  2. hanz mengatakan:

    iya neh, aku juga gregetan ma parpol-parpol itu…..satu keluarga aja bikin partai sendiri-sendiri, aneh lagi tingkahnya caleg, di solo, putranya pendiri PNI malah nyaleg PDIP. huh!

  3. Lili mengatakan:

    ya itu namanya kebebasan berdemokrasi… atau gak mau kalah.. atau malah pelebaran sayap.. entahlah, cuma caleg2 itu dan Tuhan yang tahu.. hahahaha… :p

  4. PNS JUGA mengatakan:

    “Gini-gini gua pernah lo nyoblos pas jamannya partai politik cuma tiga biji.” ternyata sampeyan wis tuwo to mas, mungkin aku masih eSDe wekekeee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Follow Twitter Gue DONK!

%d blogger menyukai ini: