KisaH BeTe eN HePI SeORang PNS

Ikon

Just another my bad days, or a few my good days

Hati-Hati Menggunakan Periscope di Kantor

Pokoknya lo lo yang suka maen periscope, kudu hati-hati. Jangan asal broadcast. Apalagi di kantor. Trus kantornya punya banyak data rahasia. Apalagi rahasia selingkuhan. Wuih, pokoknya hati-hati deh.

Sekian.

NB:

  • Yang gak tau apa itu periscope, silakan di-searching sendiri aja. Jangan males! Ingat, males bikin lemes. Cih.
  • Nyesel baca postingan sesingkat ini? Rasain!

Filed under: gado-gado, , ,

Pantaskah PNS Digaji Tinggi?

Pertanyaan ini sering banget gua denger. Entah itu dari pertanyaan orang-orang di sosial media atopun dari pertanyaan iseng orang-orang di warung kopi. Baik yang di medsos maupun yang di warung kopi isinya sebenarnya sama aja. Sama-sama ngerasa bahwa PNS gaji tinggi itu gak pantes. Yoweslah.

Tapi sebenarnya ukuran gaji PNS itu sewajarnya berapa sih? Apakah dicucok-cucoki ama UMR kah? Ato dipadan-padankan ama pendapatannya tukang Gojek kah? Ato gimana? Ato kita lari ke hutan lalu ke pantai?? #AADCbanget Baca entri selengkapnya »

Filed under: gado-gado, gaji, pns, , , ,

Ngomongin Kampung Pulo dan Tetangga

Beberapa hari ini kayaknya rame banget ya ngomongin soal Kampung Pulo. Gua di sini cuma gak mau berdebat ngawur soal siapa yang salah dan siapa yang provokator soal penggusuran di Kampung Pulo. Cukup buka aja tuh Facebook di masing-masing akun lo, insya Allah lo bakal disuguhi para ‘pengamat’ amatiran sok-sok paham nge-share info-info yang entah darimana asal usulnya. Gak usah buka-buka yang lain deh.

Gua cuma mau ngebahas soal Kampung Pulo dari sisi yang laen. Yup, itung-itung latihan lagi nulis blog, hehehe. Coba deh perhatikan, karakteristik apa yang sering nongol kalo ngeliat kampung-kampung kumuh nan padat kayak di Kampung Pulo itu? Yoi, rumahnya rapet-rapet! Gile aja tuh antar rumah satu dengan rumah lain nyaris gak ada sekat. Kadang kalo ada pemisah cuma semacam triplek tipis ato cuma dipisah ama got kecil yang baunya ampun dah bangke banget.

kampung pulo

Di situ mencuat sebuah kata: tetangga. Mereka inilah bukan hanya sebagai makhluk sebelah rumah kita aja, tapi lebih dari itu. Mereka bisa jadi kawan yang baek, musuh dalam triplek, early warning system kalo ada kebakaran dan kemalingan, hingga menjadi gerombolan yang bersatu kalo ada isu penggusuran. Baca entri selengkapnya »

Filed under: gado-gado, ,

Resensi Bukunya @pandji Indiepreneur

Halo, piye kabare? (Bentar, disetting subtitle bahasa Indonesia dulu). Okeh, pakabar, broo? Kali ini gua mau ngerensi bukunya Oom Pandji yang judulnya Indiepreneur. Kayak gini nih penampakannya:

indiepreneur

Inget! Liat bukunya, bukan jempolnya!

Keren kan bukunya? Bagi yang gak ngerti kayak apa sih si Pandji ini, silakan follow twitternya di @pandji, dan jangan lupa follow akun gua juga @UyungPNSgila (gak mau rugi, hehe). Baca entri selengkapnya »

Filed under: gado-gado, pns

Berusaha atau “Berusaha”?

Bro and sis, gua cuma pengen sedikit curhat aja sih. Ada yang ingin gua bagi lewat tulisan ini. Sori ye sedikit serius, ato malah emang beneran serius. Gua sebenarnya jarang bikin postingan serius, kalopun ada hanya ada beberapa postingan yang bisa dihitung ama jari (jari tangan ya, bukan jari jeruji sepeda).

Oke, ceritanya gini. Akibat Stasiun Gambir gak bisa dipake lagi buat nyegat KRL Comuter Line, akhirnya gua sedikit ekstra tenaga ke Stasiun Djuanda. Rutenya agak lebih jauh dari Gambir, tapi ya mau bagaimana lagi. Awalnya gua kepikiran pengen naek dari Stasiun Tanah Abang, cuma intensitas perjalanan KRL-nya gak sebanyak yang arah Kota – Bogor. Nah singkat cerita, setiap mau naek ke lantai 2 stasiun Djuanda, otomatis melalui elevator. Bagi yang sering naek KRL dari Djuanda, pasti pernah liat pemandangan di ujung elevator sebagai berikut: Seorang ibu jualan tisu yang sedang momongin anaknya yang baru berusia beberapa bulan dan seorang perempuan yang nyanggon di ujung elevator sambil menengadahkan tangan meminta belaskasihan.

Yang satu seorang ibu yang sambil menyusui anaknya yang masih bayi banget jualan tisu, satunya lagi seorang perempuan yang terlihat sangat sehat meminta-minta. Sungguh kontras. Yang satu si ibu sambil ngemong si bayi dan sejumlah kerepotan mengurus si bayi berusaha jualan tisu. Yang satunya hanya ‘bermodal’ tangan menengadah, si perempuan itu ‘berusaha’ mencari rezeki dengan mengabaikan sejumlah ‘modal’ diri yang masih sehat tanpa cacat. Manakah yang lebih mulia? Manakah yang rezekinya lebih berkah? Ato kasarnya, MANAKAH YANG LEBIH TERHORMAT?

Kadang ketika kita menjalani hidup, kita sering dihadapkan sejumlah keterbatasan. Entah itu berupa harta benda, kondisi fisik, keadaan, hingga keterbatasan sosial. Bagi yang optimis, keterbatasan itu ibarat setrum listrik yang menggerakkan dan mendayagunakan alat-alat listrik. Bagi yang pesimis, keterbatasan ibarat setrum listrik yang membakar tubuh. Kita tinggal pilih, apakah kita memilih untuk memanfaatkan setrum untuk menyalakan lampu dan barang-barang elektronik, atau lebih suka menganggap listrik itu energi berbahaya yang menghanguskan tubuh.

Ato apakah Anda¬† memilih untuk BERUSAHA ATAU ‘BERUSAHA’?

Filed under: gado-gado, , , , ,